|
|
|
|
| Author | Topic: Sex On The Street |
|
Ryan Ivon (Moderator) |
posted 1/14/04 2:08 AM
Aku sedang mengunjungi keluargaku di Samarinda, malam-malam aku di ajak jalan-jalan oleh kerabatku yang seumuran dengan ku, tepatnya malam minggu. Ternyata bahwa Samarinda sebuah kota Metropolis, malam minggu yang hidup. Wanita sebayaku ada di jalan-jalan, awalnya mereka kongkow-kongkow di Mall, setelah itu dimulailah di jalan seperti jalan Mulawarman, jalan Niaga, jalan Yos Sudarso, Tepian Mahakam. Mereka adalah penjaja sex di jalanan. Sungguh amat luar biasa mereka seumuran denganku usia sekitar sekolah SLTP atau SMU, mahasiswi juga banyak. Macan-macan, mereka bertransaksi sex dengan para ABG, teman sendiri bahkan Om-om.Aku betul-betul tidak paham apa yang dia inginkan. Tapi dengan keberanian aku memulai sebuah survey ala diriku, ternyata mereka melakukan sex bebas di jalanan ada beberapa motif: (1) karena memang suka dan gaya hidup, tidak semua sekedar menjajakan tubuh untuk memperoleh materi, tapi mereka sedang berpetualang sex bebas dengan senikmat-nikmatnya, (2) karena faktor ekonomi, kemiskinan dan kebutuhan hidup yang mendesak adalah menyebabkan mereka terlalu mudah terjun ke sex jalanan, (3)ingin mencari uang sebanyak-banyaknya dengan cara yang mudah, karena hidup mereka telah tergiur materi, belanja sana-sini, ingin berpakaian bagus, perhiasan yang melimpah, punya handphone yang bisa gonta-ganti. (4) karena frustasi, patah hati, broken home seperti ditinggal pacar, orang tua yang bercerai, pernah di perkosa. Ini adalah dunia wanita remaja yang sungguh membuat aku tidak habis pikir. Kadang-kadang aku terpengaruh juga dengan omongan mereka bahwa sex ini tidak hanya sekadar mendapat uang, tapi kepuasan, kesengan sekaligus sensasi luar biasa. Bayangkan anak-anak remaja itu telah melakukan sex dengan siapa saja, merekapun bisa menilai rasanya antara lelaki ini lelaki itu. Satu hal yang perlu diingat, referensi mereka adalah internet, dimana situs-situs porno akan mereka tonton sama-sama dengan para lelaki yang ingin menikmati, kemudian adalah VCD porno yang bebas berkeliaran sampai sekarang, ternyata banyak produk CVD dalam negeri dengan wanita Indonesia menjadi kesukaan mereka. Adegan sex itu mereka tiru, bayangkan si ina (nama samaran) bermain dengan tujuh pemuda di sebuah penginapan. si ita dan si tuti (nama samaran) menikmati melakukan sex sesama jenis dan menjadi tontotan mereka-mereka yang suka. Merekapun melakukan percobaan dalam berbagai gaya sex. Apakah orang tua mereka tidak tahu perbuatan anaknya?, apakah ada yang peduli, siapa yang peduli? mereka sendiri amat menikmati, mereka memang ingin. Tidak ada kasus terpaksa, di perkosa atau di suruh-suruh, mereka telah melakukan ini dengan sukarela, senang hati dan penuh kebanggaan. Mereka selalu bangga jika dapat menggaet cukong dengan mendapat uang yang melimpah. Mereka bangga jika yang mengencani orangnya keren, ganteng, mereka bangga jika bisa pesta sex dengan beberapa lelaki hanya dengan. Mereka bangga menjadi wanita yang cantik, seksi dan harganya mahal. Mereka bangga. Aku harus segera pulang ke Mojokerto, aku tidak tahan dengan keadaan ini bisa-bisa aku akan ikut-ikutan tergoda dan masuk terjerumus ke dalamnya. Sebab cerita yang ada, hanyalah kenimatan, uang melimpah dan pujian. Wanita mana yang tidak suka uang, kenikmatan, dan pujian/sanjungan bak bintang?. Temanku sesama remaja, aku berharap ini jangan dijalani, aku berharap kamu jangan jalan-jalan terlalu malam, sebab malam-malam adalah dunia gemerlap, banyak gadis cantik yang berkeliaran dengan pakaian yang merangsang, dengan tingkah yang jelas nyata menunjukkan profesinya. Meraba, memegang, mencium di depan umum dimalam itu adalah hal yang tidak ditabukan. Bahkan jika seorang gadis jika lelaki yang yang diiginkan tidak punya uang, melakukan sambil berdiri di bersandar di gedung di bawah kegelapan adalah hal biasa. Aku tidak ingin kamu semua terlibat, aku ingin orang tua, guru, pemerintah, bahkan siapa saja peduli ini, paling tidak peduli kepada anaknya sendiri. Aku pikir hanyalah keimanan solusinya untuk membentengi anak-anak bapak/ibu yang menginjak remaja itu. Bagaimana tanggapan teman-teman, bapak-bapak, ibu-ibu, para pemimpin, guru,.... tolong mari kita diskusikan di forum diskusi guruvalah.20m.com yang tercinta ini. Salam dari saya, Ryan Ivon di Mojokerto. Anda bisa juga kirim E-mail kepada ku !!! http://www.geocities.com/guruvalah Komunitas guru Profesional |
| desvita & tha tha |
posted 3/10/04 4:06 AM
Memang kita sangat menyadari bahwa dunia malam adalah dunia yang gemerlap. Penuh dengan kenikmatan-kenikmatan yang hanya sementara. Oleh karena itu kita harus berhati-hati agar tidak terjebak di dalam gemerlapnya malam. Apalagi di jaman sekarang yang semua orang dapat menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Mereka tidak pernah perduli resiko yang dihadapi nyawa sekalipun rela mereka pertaruhkan.Tetapi kita tidak bisa menyalahkan hal ini sepenuhnya kepada mereka.Karena tidak ada satu orangpun didunia ini yang menginginkan hal seperti itu.Tetapi kita kembali ke pribadi masing-masing. |
| Regina V.Hanoum |
posted 3/10/04 4:30 AM
Belakangan ini topik sex bebas sangat digemari oleh kalangan muda.Seminar-seminar yang memuat topik ini banyak digelar.SEX BEBAS suatu istilah yang berkembang di kalangan anak muda terutama di kalangan anak-anak yang hidup jauh dari orang tua mereka.Bagi mereka melakukan hubungan intim adalah yang biasa saja.Padahal dari segi agama tentu saja hal ini sangat bertentangan. Perkembangan zaman juga menjadikan salah faktor yang utama.Lihat saja di media televisi banyak berkembangnya aksi pornografi yang memancing para kaula muda untuk melakukan hal-hal yang berbau sex.Betapa tidak karena adanya era globalisasi yang menyebabkan western bercampur dengan kebudayaan timur yang menyebabkan kepudaran kebudayaan sendiri.Tetapi beruntung bagi generasi muda yang tidak terpengaruh oleh budaya-budaya western. |
| selvi herianti |
posted 3/10/04 4:49 AM
sex on the street. judul yang sangat menarik. menurut saya hal ini bukan merupakan 'barang'baru dalam kehidupan kita. mungkin seperti yang kita ketahui bersama bahwa kemajuan zaman dan kemajuan tekhnologi punya andil besar dalam hal ini. mengapa bisa begitu? tentu saja hal ini dikarenakan adanya kebudayaan baru dari luar (western lifestyle) dapat kita nikmati langsung dari berbagai media yang menayangkan berbagai macam adegan 'syuur' yg mungkin bagi kaula muda indonesia ditelan bulat-bulat tanpa mau memfilternya terlebih dahulu. betul juga yang bang Ryan Ivon katakan bahwa hal ini dipengaruhi beberapa faktor. seperti halnya karena kebutuhan biologis, ekonomi, atau cuma pengen 'having fun' doank! semua itu sebenarnya bisa kita tanggulangi dengan cara memberikan pendidikan sex yang terarah kepada seluruh kaula muda kita. dan tidak dapat kita pungkiri bahwa hal ini bisa terjadi karena ada faktor intern dan ekstern, misalnya latar belakang keluarga, kurangnya perhatian dari orangtua,kurangnya pengetahuan pendidikan agama, dll. faktor eksternnya karena lingkungan, teman-teman, media-media yang sebenarnya tidak layak untuk dinikmati oleh kaula muda yang belum cukup umur. sekarang solusinya adalah sebisa mungkin kita bersama menggalakan anti pornografi dan pornoaksi di segala media. sebisa mungkin kita kembali pada agama kita masing-masing agar kita dapat mempertahankan diri dalam kuatnya arus perkembangan zaman. dan pencegahannya mulai sekarang stop untuk free sex, waspadai 'penyakit'sebagai akibatnya. dan ingat satu pesanku "jangan mencoba kenikmatan yang belum saatnya untuk dirasakan" back to your relligion. OK! |
| uswatun hasanah |
posted 3/10/04 5:09 AM
Menurut sanah sex in the street merupakan suatu yang menjadi kebudayaan bangsa kita terlebihnya lagi para kaula muda yang setiap harinya menjadi 'penjaja'&'penjual' sex yang sudah menjadi trend masa kini.Betapa seorang pemuda yang udah enggak ingin mencoba yang namanya sex tergoda rayuan dasyat dari konco-konconya.karena ,mereka selalu menggambarkan sex adalah keindahan dunia or surga dunia yang 'betapa dasyatnya nikmatnya'.Apakah kita-kita sebagai generasi penerus bangsa harus menjadi 'para mania sex'nggak lagi.nyadar dong hai generasiku kita-kita ini secara tidak langsung udah dijajah especialy about '3F'they're food,fun and fashion.dari ketiga ini yang menurut aku yang berhubungan dengan sex adalah fashion betapa enggak???dari pakaian yang kaum hawa pakai yang katanya sih lagi pada ngetrend buka-bukaan dari situlah akan timbul 'trademark'yang meberitahukan bahwa si pengubar sex mayoritas adalah kaum hawa. |
| Chips |
posted 8/27/04 3:33 AM
Sex on the street is an old topic, but its very interesting subject for young generation, becouse most of young generation especially the student for vocationaly school and general height school must be prevented for Juvenile deliquency. This topic can be an early warning predictore for the student to defense their culture, specifically as an east culture that prohabited to commit adultery before married. |
|
|